Hidup di pedesaan memang slow living, selama saya tinggal di daerah jawa barat yang dingin tapi gak terlalu dingin dengan bahsa sundanya menambah unsur keterasingan saya sebagai orang jawa tengah yang bahasanya bukan bahasa sunda tapi untungnya warung padang dan minimarket serta SPBU membuat khawatir saya hilang karena ya pakai bahasa indonesia
Tren walid nak boleh yg udah lama banget ternyata masih dibicarakan di anak kecil sini, sungguh jauh dibanding anak kota yang sudah tidak membahas itu lagi tapi bagi saya itulah suatu kejernihan berfikir yang dimana kita tidak terlalu butuh fast living, slow living bikin hidup kita jadi tenang dan nggak ugal-ugalan oleh tren yang mungkin akan merusak tatanan hidup
Saya juga sudah tidak membuka sosial media sudah lama sekali, menikmati udara segar lebih berarti dan enak dibanding main game atau sosmed walau sinyal di pedesaan lebih bagus alias hampir full bar dibanding kota, internetan saya juga tidak masalah dan stabil namun tetap saja nuansa slow living ini masih terasa, ketika balik lagi ke kota seperti ada jet lag